Di gut udang, kondisi lingkungan sangat menentukan mikroba seperti apa yang bisa berkembang. Salah satu cara untuk memengaruhi kondisi tersebut adalah dengan organic acids. Jenisnya cukup beragam. Ada short-chain fatty acids, seperti formic, acetic, propionic, dan butyric acid. Ada juga medium-chain fatty acids, seperti caprylic, capric, dan lauric acid. Cara kerjanya pun bisa berbeda. Short-chain fatty acids, misalnya, dapat menurunkan pH di saluran pencernaan. Dalam bentuk yang tidak terdisosiasi, sebagian asam juga dapat masuk ke dalam sel mikroba. Setelah berada di dalam sel, asam tersebut dapat mengganggu keseimbangan internal dan metabolisme mikroba. Jadi, efeknya bukan hanya karena lingkungan gut menjadi lebih asam. Molekul asam juga dapat berinteraksi langsung dengan sel mikroba. Sementara medium-chain fatty acids lebih mudah berinteraksi dengan membran sel. Ketika membran terganggu, fungsi normal sel mikroba juga ikut terganggu. Perbedaan seperti ini penting karena organic acid yang berbeda tidak selalu memiliki target dan aktivitas yang sama. Ada juga jenis organic acids lain, seperti lactic acid, fumaric acid, atau citric acid, yang dapat digunakan untuk memengaruhi kondisi lingkungan di saluran pencernaan. Jadi, pemilihan jenis asam biasanya perlu disesuaikan dengan fungsi yang ingin dicapai. Pada udang, mekanisme seperti ini dapat dimanfaatkan untuk membantu mengelola kondisi mikroba di dalam gut. Ketika lingkungan gut lebih mendukung, proses yang terjadi di dalam saluran pencernaan juga dapat ikut berubah. Hal ini kemudian dapat berkaitan dengan proses pencernaan, aktivitas mikroba, dan pemanfaatan nutrien. Tetapi hasil akhirnya tetap bergantung pada bagaimana ingredient tersebut digunakan. Jenis asam, kombinasi, dosis, bentuk formulasi, stabilitas, sampai waktu pemberian akan menentukan seberapa efektif ingredient mencapai targetnya. Misalnya, beberapa organic acids dapat diformulasikan dalam bentuk yang lebih terlindungi atau terlapisi. Tujuannya agar ingredient tidak terlalu cepat bereaksi sebelum mencapai bagian saluran pencernaan yang menjadi target. Jadi di lapangan, bukan sekadar memilih organic acid. Kita juga perlu melihat bagaimana ingredient tersebut diformulasikan dan diberikan melalui pakan, berapa dosisnya, dan apakah aktivitasnya tetap terjaga sampai mencapai target. Hal yang sama berlaku pada functional compounds lainnya. Ada ingredient yang targetnya gut, ada yang lebih berkaitan dengan mikroba, ada yang mendukung respons imun, dan ada yang digunakan untuk membantu menghadapi oxidative stress. Karena itu, satu ingredient tidak selalu cocok untuk semua kondisi. Yang perlu dilihat adalah kebutuhan biologis udang, target yang ingin didukung, bagaimana ingredient tersebut bekerja, dan bagaimana cara aplikasinya. Dengan pendekatan seperti ini, functional compound tidak hanya dilihat sebagai nama ingredient, tetapi sebagai alat yang dipilih berdasarkan fungsi biologis yang memang ingin kita dukung pada udang.